Senin, 02 Mei 2011

Kaitan Kondeling Dengan Layanan Lainya

KAITAN KONSELING DENGAN LAYANAN LAINNYA

  1. DEFINISI KONSELING
Menurut Pietrofesa, Leonard, dan Hoose dalam Andi Mappiare AT merumuskan definisi konseling harus mengandung unsur-unsur:
  1. Suatu proses
  2. Adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional
  3. Membantu orang lain
  4. Untuk memahami diri, pembuatan keputusan, dan pemecahan masalah
  5. Pertemuan “dari hati ke hati” antar manusia
  6. Hasilnya sangat tergantung pada kualitas hubungan.

  1. KAITAN KONSELING DENGAN LAYANAN BIMBINGAN DI SEKOLAH
Dalam jalur pendidikan formal terdapat berbagai layanan yang berfungsi untuk menunjang kualitas pendidikan para peserta didik serta memberi kemudahan bagi mereka untuk mengikuti proses pendidikan di sekolah. Semua layanan tersebut berada dalam naungan program bimbingan dan konseling. Layanan program bimbingan dan konseling yang paling utama adalah layanan konseling, namun ada juga beberapa layanan yang tidak kalah pentingnya yaitu, layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan penempatan dan penyaluran serta masih banyak lagi layanan lainnya. Meskipun layanan konseling merupakan layanan utama dari program bimbingan dan konseling, namun tetap saja layanan konseling sangat berhubungan dan terkait dengan jenis-jenis layanan BK lainnya serta juga memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Kali ini sebagai contoh yang akan dibahas adalah kaitan layanan konseling dengan layanan orientasi, informasi, serta layanan bimbingan penempatan dan penyaluran.
  1. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dikoordinir guru BK atau konselor dengan bantuan semua guru dan wali kelas dengan tujuan mengorientasikan (mengarahkan, membantu, mengadaptasi) siswa dari situasi lama ke situasi baru sehingga mereka dapat memahami dan menyesuaikan diri. Layanan ini biasanya dilakukan pada awal program pelajaran baru. Materi orientasi biasanya mencakup organisasi sekolah, staf dan guru, kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib sekolah. Dari sini tampak bahwa layanan orientasi mengenalkan segala sesuatu yang ada di sekolah termasuk juga mengenalkan program bimbingan dan konseling.
Layanan orientasi dan layanan konseling ini mempunyai keterkaitan satu sama lain bahkan mempunyai hubungan timbal balik. Bisa dikatakan melalui layanan orientasi inilah siswa dapat mengetahui seluk beluk mengenai program bimbingan dan konseling. Karena para peserta didik memang belum pernah mengenal program tersebut sebelumnya, sehingga dengan adanya layanan orientasi ini para peserta didik menjadi tahu makna, tujuan dan fungsi adanya layanan konseling. Sebaliknya, layanan konseling ini juga membantu keberhasilan dalam layanan orientasi. Biasanya meskipun layanan orientasi telah diberikan, tetap saja masih ada sebagian siswa baru yang belum begitu mengerti mengenai materi yang diberikan dalam layanan orientasi. Dalam hal inilah layanan konseling mempunyai peran yang sangat besar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Siswa yang belum mengerti tentang materi layanan orientasi sebelumnya dapat mengikuti layanan konseling, karena melalui pertemuan langsung dengan konselor tersebut mereka dapat lebih memahami layanan orientasi yang diberikan. Selain itu dalam layanan konseling, layanan orientasi yang diberikan lebih luas wilayah cakupannya bukan saja mengenai sekolah namun juga berbagai hal yang diperlukan oleh siswa.
Layanan konseling dan layanan orientasi ini juga memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan kedua layanan ini terletak pada faktor tujuan pelayanan dan tempat pelayanannya. Tujuan pelayanan yang dimaksud adalah sama-sama bertujuan agar siswa dapat memahami dan menyesuaiakan diri dengan lingkungan yang baru terutama lingkungan sekolah. Untuk tempat pelaksanaan sama-sama diberikan di lingkungan sekolah. Perbedaanya meliputi jumlah siswa, waktu pelaksanaan dan pelaksana kegiatan. Biasanya pada layanan orientasi diberikan kepada sejumlah besar peserta didik atau satu kelas, sedangkan pada layanan konseling terdiri dari satu atau beberapa peserta didik saja. Untuk waktu pelaksanaan, layanan orientasi diberikan hanya saat tahun ajaran baru saja dan layanan konseling dapat diberikan kapan saja disaat peserta didik membutuhkannya. Pelaksana kegiatan kedua layanan ini pun berbeda, jika layanan orientasi dapat dalakukan oleh siapa saja yang sangat mengenal seluk beluk sekolah, sedangkan layanan konseling hanya diberikan oleh guru BK saja.
  1. Layanan Informasi
Layanan informasi adalah layanan yang bertujuan memberikan informasi tentang berbagai hal yang bermanfaat bagi peserta didik melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik). Biasanya berupa papan pengumuman, majalah sekolah, website sekolah, dan lain-lain. Seperti juga layanan orientasi, layanan informasi ini pun memiliki keterkaitan dengan layanan konseling. Karena dalam layanan informasi ini, biasanya juga memuat berbagai informasi yang bermanfaat mengenai program bimbingan dan konseling, misalnya mengenai artikel yang ditulis oleh konselor, pengumuman jadwal layanan konseling yang diberikan oleh konselor, layanan konsultasi melalui media informasi sekolah dan lain-lain. Umumnya informasi yang dibutuhkan oleh siswa meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Namun tidak semua informasi tersebut dapat terpenuhi melalui layanan infomasi sekolah. Dalam hal ini, layanan konseling dapat berfungsi sebagai layanan informasi sekolah bahkan informasi yang disampaikan pun lebih mendetail dan tepat sasaran.
Persamaan layanan informasi dan layanan konseling selain pada tujuan pelayanan yaitu terletak pada media penyampaiaannya. Kedua layanan ini sama-sama menggunakan komunikasi langsung maupun tidak langsung. Untuk perbedaan kedua layanan ini sama seperti perbedaan yang dimilki layanan orientasi yang terletak pada faktor pelaksana kegiatan.
  1. Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran
Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran dilakukan untuk membentuk peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat/kemampuan dan minatnya. Layanan ini dipimpin oleh konselor. Akan tetapi dapat juga dilakukan oleh wali kelas dengan konsultasi kepala sekolah atau konselor. Dalam kegiatan ini sangat dibutuhkan campur tangan layanan konseling agar bimbingan penempatan dan penyaluran dapat berjalan dengan efektif. Layanan konseling tersebut berupa tes psikologi, pembuatan angket khusus, dan wawancara konseling, karena itu campur tangan konselor tidak dapat dipungkiri. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan penempatan dan penyaluran juga membutuhkan konseling untuk memperoleh hasil yang tepat. Untuk persamaan dan perbedaan yang dimiliki layanan bimbingan dan penempatan, hempir sama dengan persamaan dan perbedaan yang telah disebutkan sebelumnya.
  1. KAITAN KONSELING DENGAN LAYANAN BIMBINGAN BELAJAR
Seperti yang kita ketahui konselor tidak hanya diperlukan pada jalur pendidikan formal saja, tapi juga sangat diperlukan dalam jalur pendidikan non formal. Jalur pendidikan non formal yang kita maksud saat ini adalah lembaga bimbingan belajar. Saat ini lembaga bimbingan belajar banyak bermunculan di tiap kota, bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Hal ini terjadi karena selain faktor seleksi masuk perguruan tinggi ataupun seleksi masuk jenjang pendidikan selanjutnya faktor yang paling utama yaitu berlakunya sistem Ujian Nasional, yang mengakibatkan banyak peserta didik yang takut tidak lulus UAN. Akhirnya banyak siswa beramai-ramai mendaftarkan diri pada lembaga bimbel. Ini berarti lembaga bimbel pun harus berlomba mempromosikan kualitas akademik yang dimiliki mereka.
Untuk menunjang kualitas akademik, tentulah mereka tidak hanya membutuhkan seorang tentor yang berkualitas tapi juga sangat membutuhkan seorang konselor. Ini dikarenakan seorang tentor belum tentu memperhatikan bagaimana dan apa saja keluhan dari peserta didik, apalagi tidak menjamin konselor tersebut ahli dalam bidang konseling. Dalam hal inilah konselor sangat berguna menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut. Melalui konselor, peserta didik dapat mengonsultasikan permasalahan belajar yang mereka hadapi, apabila mereka tidak cocok dengan tentor yang bertugas mereka dapat membicarakannya pada konselor dan konselor akan menggantinya dengan tentor yang cocok. Selain itu konselor dalam lembaga bimbel ini biasanya bertugas melakukan training motivasi, tes psikologi, pembuatan angket, dan lain-lain. Training motivasi biasanya diberikan pada peserta didik yang akan menempuh ujian, agar mereka tidak lagi mengalami ketakutan dalam melaksanakan ujian, sehingga bisa memndapatakan nilai maksimal.
Peran layanan konseling dalam lembaga pendidikan formal ini tidak begitu berbeda dengan layanan konseling di sekolah. Dengan adanya sebuah layanan konseling di lembaga bimbel tentunya peserta didik pun menjadi lebih percaya pada kualitas lembaga bimbingan belajar. Itu merupakan bukti begitu pentingnya keberadaan sebuah layanan konseling pada sebuah lembaga bimbingan belajar. Dari berbagai penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa layanan konseling tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal saja namun pendidikan non formal juga, seperti contoh pada lembaga bimbel.
  1. KAITAN KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
Para ahli mempunyai beberapa pendapat tentang konseling dengan psikoterapi adalah sama, yaitu sama-sama membantu orang lain. Hanya saja konseling lebih banyak digunakan di kalangan pendidikan , sedangkan psikoterapi digunakan oleh pekerja sosial, psikolog, dan psikiater. Meskipun demikian, ada juga yang menganggap konseling dengan psikoterapi adalah berbeda. Berbagai perbedaan tersebut bersifat permukaan atau hal-hal teknik (superficial), dari pada hal-hal yang mendasar atau penting (substansial).
  1. Persamaan konseling dengan psikoterapi
Pada dasarnya tujuan konseling dengan psikoterapi adalah sama, yaitu eksplorasi diri, pemahaman diri, dan perubahan perilaku. Keduanya mencoba menghilangkan perilaku merusak diri pada konseli/klien. Baik konseling dan psikoterapi menekankan pada perkembangan pembuatan keputusan dan keterampilan pembuatan rencana oleh konseli/klien. Hubungan antara konselor dengan konseli merupakan bagian paling penting dalam konseling dan psikoterapi.
  1. Perbedaan konseling dengan psikoterapi
  1. Konseling lebih berfokus pada konseren, ikhwal, masalah pengembangan, pendidikan, dan pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih fokus pada konseren atau masalah penyembuhan, penyesuaian, dan pengobatan.
  2. Konseling dijalankan atas dasar falsafah atau pandangan terhadap manusia, sedang psikoterapi atas dasar ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi. Perlu ditambahkan bahwa konseling juga memanfaatkan teori kepribadian dan teori psikologi lainnya, tetapi bukan sebagai dasar kerjanya, melainkan hanya sebagai alat bantu dalam memahami individu.
  3. Konseling dan psikoterapi berbeda dalam tujuan dan caranya dalam mencapai tujuan. Tujuan psikoterapi adalah mengatasi kelemahan tertentu melalui beberapa cara praktis mencakup “pembedahan psikis” dan pembedahan otak. Sedang konselor berurusan dengan identifikasi dan pemgembangan kekuatan-kekuatan positif pada individu. Hal ini dilakukan dengan membantu klien untuk menjadi seorang yang berfungsi secara sempurna.
  4. Penekanan pada perbedaan subyek, konseling lebih menekankan pada hal-hal yang sadar dan masa kini, sedangkan terapi pada masa yang lalu.
  5. Sifat gangguan yang ditangani konseling dan psikoterapi juga berbeda. Konseling lebih pada masalah-masalah yang membutuhkan pemecahan. Sedang psikoterapi menangani masalah disfungsi atau gangguan emosional yang parah.

  1. KAITAN KONSELING DENGAN LAYANAN PENGOBATAN ALTERNATIF (DALAM AGAMA ISLAM)
Di kalangan masyarakat terpelajar sudah dikenal adanya layanan konseling, karena memang profesi konselor dapat dengan mudah ditemui di daerah perkotaan. Orang terpelajar secara sadar mencari solusi problemnya dengan mencari konselor, sementara orang awam tidak tahu persis apa problemnya, dan tak tahu juga harus kemana. Namun demikian bukan berarti masyarakat awam tidak mengenal layanan konseling yang bernuansa psikologi. Di kalangan masyarakat pedesaan, orang yang mengalami problem kejiwaan biasanya pergi kepada kyai. Bahkan saat ini bukan masyarakat awam saja, namun masyarakat perkotaan juga ada yang menggunakan layanan yang disebut pengobatan alternatif ini.
Dalam layanan ini biasanya kyai memberikan layanan yang bernuansa psikologis, tetapi bukan berbasis psikologi, yakni berbasis akhlak dan tasauf. Sebagaimana diketahui dalam sejarah keilmuan Islam tidak muncul ilmu semacam psikologi yang berbicara tentang tingkah laku. Jiwa dalam sejarah keilmua Islam dibahas dalam ilmu akhlak dan ilmu tasauf. Apa yang dilakukan oleh para kyai barangkali memang tidak “ilmiah”, tetapi tak terbantah justru banyak yang bernilai tepat guna, karena memang tidak dipungkiri bahwa kita juga membutuhkan layanan yang bernuansa religi. Hingga hari ini masih banyak orang mencari pengobatan alternatif setelah gagal menjalani terapi modern melalui konselor psikologi.
Dengan penjelasan sebelumnya kita dapat mengetahui bahwa layanan konseling juga memiliki keterkaitan dalam layanan pengobatan alternatife. Memang sebuah layanan konseling seharusnya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya. Namun dalam hal ini kyai pun bisa disebut sebagai orang yang ahli dalam bidang keagamaan, dan juga memiliki ilmu psikologi yang berdasarkan kitab suci dan hadist. Sehingga layanan yang dilakukan oleh kyai ini pun bisa disebut konseling. Yang membedakan hanyalah jika pada layanan yang diberikan oleh konselor berdimensi horizontal, sedangkan layanan yang diberikan kyai berdimensi vertikal dan horizontal.
.






DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Yusup. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama
Mappiare, Andi AT. 2006. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Willis, Sofyan S. 2004. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar